PKMI

          Indonesian Association for Secure Contraception                            

          Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia                                                                                                      

            HOME       ABOUT US       ARTICLE      TRAINING PROGRAMS           HEALTH INFO        PHOTO GALERY     CONTACT US

Article and Journal

 

 

 

 

Tubectomy Minilaparotomy with Local Anastasia

TUBEKTOMI MINILAPAROTOMI DENGAN ANESTESI LOKAL

PILIHAN TERHADAP TEKNIK "R"

Kontrasepsi mantap wanita (Kontap) disebut sebagai pengikatan saluran tuba.  Salah satu metodenya adalah Tubektomi Minilaparotomi dengan Anestesi Lokal (TMAL). Metode TMAL merupakan tindakan operatif diagnostik dengan sayatan kecil 1,5-3 cm (minilaparotomi) pada dinding perut, suprapubik untuk interval dan subumbilikal untuk Pasca Persalinan, merupakan penyederhanaan dari metode laparotomi. Teknik ini dikembangkan agar dapat dilakukan dalam jumlah besar, biaya minimal, dan dapat dilakukan oleh dokter umum dengan pelatihan yang relatif singkat dan tidak mahal.

 TMAL dapat dilakukan segera setelah melahirkan (Pasca Persalinan) jika tidak ada masalah  komplikasi melahirkan, Pasca abortus, atau masa interval (setelah 6 minggu melahirkan) selama tidak sedang hamil.

 Keuntungan-keuntungan utama dari TMAL:

  • Hanya memerlukan peralatan yang relatif sederhana, tidak mahal, dan mudah dirawat.

  • Dapat dilakukan di fasilitas yang memiliki tenaga dan perlengkapan terbatas, dan  jumlah pelayanan tidak banyak.

  • Ketrampilan melakukan prosedur TMAL bagi dokter pelaksana dapat diperoleh melalui pelatihan yang relatif tidak lama.

  • Dapat dilakukan pada masa interval atau masa Pasca Persalinan.

Salah satu prosedur tubektomi yang dikembangkan oleh PKMI adalah yang dikembangkan oleh Rizani Amran atau lebih dikenal dengan teknik “R”. Setelah melalui serangkaian observasi dan perbaikan, sejak tahun 1986 teknik ini diujicobakan pada klien, baik melalui pelayanan statis dan mobil. Teknik "R" diseminarkan pada pertemuan tahunan PKMI di Puncak (Jawa Barat) pada tahun 1988. Hasil observasi pelayanan dan pelatihan keterampilan klinik tubektomi dengan menggunakan elevator, memberi petunjuk tentang adanya beberapa komplikasi yang disebabkan oleh aspek teknis. Dari hasil pengamatan ini pula  diketahui  bahwa apabila elevator digunakan dengan baik, akan sangat membantu operator bila manipulasi instrumen ini dijalankan dengan baik dan benar.

Upaya pengembangan teknik "R", meliputi keseluruhan langkah dalam prosedur klinik. Pengembangan bukan berarti mengubahnya menjadi sesuatu yang lain, melainkan untuk mendapatkan beberapa alternatif agar prosedur tubektomi menjadi lebih sederhana dan aman. Pengembangan dan temuan alternatif tersebut adalah sebagai berikut:

Manipulasi Uterus Tanpa Instrumen

Kajian data organisasi peneliti kinerja dan kualitas tubektomi (CREST) Amerika Serikat menunjukkan bahwa salah satu penyebab komplikasi adalah instrumen elevator. Alat ini menyebabkan perforasi dinding depan uterus akibat ditembus ujung elevator. Kejadian perforasi, dapat segera diketahui melalui pengamatan dari insisi dinding perut. Menurur penelitian tersebut, angka perforasi akibat elevator adalah sebesar 14,6%. Perforasi komplit lebih mudah diketahui dibandingkan dengan perforasi inkomplit.

Perforasi inkomplit akan memberikan gejala perdarahan melalui kanalis servisis setelah elevator dikeluarkan.

Banyak kasus perdarahan seperti ini diabaikan oleh operator karena dianggap sebagai gejala normal pasca-pemasangan elevator. Hasil eksplorasi histeroskopik menunjukkan angka perforasi inkomplit cukup tinggi (27%) pada tubektomi dengan elevator . (Agustria, 1989)

Upaya untuk menampilkan uterus dengan jalan mengkaitnya dengan jari melalui insisi pada dinding perut, dianggap lebih aman. Paling tidak, angka perforasi dinding uterus dapat diturunkan hingga ke tingkat nihil. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya kasus perforasi apabila prosedur tubektomi dilakukan dengan teknik "R". Sebaliknya, pada saat praktek klinik pelatihan tubektomi sekalipun, dapat saja dijumpai kejadian perforasi uterus akibat pemasangan dan manipulasi elevator.

Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah pada kasus-kasus dimana klien yang digolongkan sebagai potensial, ternyata tidak ditapis secara baik. Klien ternyata hamil dan tidak terdiagnosis pada saat elevator dipasang dan dimanipulasi. Keadaan ini dapat menyebabkan perdarahan atau abortus pasca tubektomi. Kondisi seperti ini akan sangat menyulitkan bagi klien maupun tim medik tubektomi.

Pertimbangan lain adalah introduksi/penetrasi elevator ke dalam kavum uteri merupakan suatu tindakan invasif. Hal ini bukan saja menyebabkan risiko terjadinya perforasi dinding uterus tetapi juga meningkatkan risiko infeksi. Walaupun menggunakan  elevator steril, risiko invasi mikro-organisme ke dalam kavum uteri akan cukup tinggi apabila tidak menerapkan teknik tanpa sentuh (no-touch technique).   

Membuka Dinding Perut

Menentukan garis insisi, diupayakan untuk lebih banyak mengikuti garis kulit alami (Langer"s line) daripada penentuan teknis yang kaku. Misalnya, ketentuan 2 cm diatas simfisis, tetap harus memperhatikan adanya garis kulit alamiah dalam kisaran lokasi garis insisi yang ditentukan secara teknis. Hal ini sangat penting karena berkaitan dengan aspek regangan jaringan, kosmetik, penyembuhan dan topografi anatomik.

Untuk menghindarkan perdarahan pada lemak subkutis, lapisan ini tidak disayat atau digunting secara tajam. Pemisahan secara tajam terhadap lemak atas dan bawah dari garis insisi, akan memotong cabang-cabang pembuluh darah secara langsung. Dengan alasan tersebut, lapisan lemak ini dipisahkan secara tumpul dengan klem atau bagian punggung bilah gunting. Setelah timbul celah antara lemak, pemisahan dilanjutkan dengan bilah retraktor hingga dapat menampakkan lapisan fascia secara jelas.

Fascia disayat secukupnya hingga memungkinkan ujung klem atau gunting dimasukkan untuk memperlebar insisi. Pelebaran insisi ini juga dimaksudkan agar kedua ujung bilah retraktor dapat masuk dan memperlebar bukaan fascia sehingga operator dapat dengan mudah mencapai lapisan dalam.     

Setelah lapisan otot dipisahkan secara tumpul maka sambil menegangkan lapisan tipis (fascia transversus abdominis dan peritoneum) dinding perut diangkat menjauhi kavum pelvis. Tekankan ujung pean atau bagian punggung ujung gunting pada lapisan tipis tadi  dan lakukan gerakan membuka pean/gunting sehingga peritoneum terbuka. Perasat ini merupakan upaya yang cukup aman untuk membuka lapisan peritoneum. Peritoneum diangkat (bersamaan dengan dinding perut) menjauhi kavum pelvis untuk memberi jarak yang cukup aman terhadap organ dalam pelvis. Penekanan lapisan peritoneum dengan ujung pean/gunting merupakan tindakan invasif yang sangat minimal. Selain itu, membuka lapisan peritoneum dengan tekanan ringan, akan mendorong organ lain (misalnya: usus, yang mungkin berada dibawah lapisan peritoneum). Teknik ini jauh lebih aman daripada menjepit peritoneum dan mengguntingnya. Upaya untuk menjepit peritoneum sendiri, bukanlah pekerjaan yang mudah.

Perlu prosedur jepit-lepas berulang kali, kemudian diikuti dengan pemeriksaan tidak ada organ lain yang terjepit (dengan meraba atau transluminasi). Hampir sebagian besar waktu dalam prosedur tubektomi, tersita untuk identifikasi dan membuka lapisan peritoneum.

Mencapai Tuba

Kunci keberhasilan teknik "R" adalah kemampuan petugas pelaksana (provider) dalam memposisikan uterus dengan jari sehingga tuba dapat dicapai dengan mudah. Jari yang dimasukkan melalui luka insisi, akan mencapai dan mengidentifikasi fundus, kemudian mengangkat korpus uteri ke depan. Setelah posisi anteversi tercapai, diupayakan agar uterus tertopang oleh organ dalam (usus, omentum) pada posisi yang diinginkan. Hal ini akan dengan sangat mudah dilaksanakan apabila pasien disiapkan dengan baik (usus tidak menggembung dan klien tidak mengedan). Bila jari operator sulit mencapai uterus yang sangat retroversi, maka asisten akan membantu dengan mendorong korpus uteri ke depan melalui vaginal toucher.

Hampir semua langkah yang dilakukan di atas, tidak menggunakan tindakan manipulatif dengan instrumen. Dengan demikian, kemungkinan terjadinya cedera yang diakibatkan oleh manipulasi instrumen dalam tahapan tersebut, dapat diabaikan.

Fundus dan tuba yang dapat dilihat secara langsung, akan sangat mudah diindentifikasi dan diambil dengan pinset. Pengambilan tuba kanan dan kiri, dapat dilakukan secara simultan. Apabila ternyata tuba tidak dapat dilihat secara langsung, maka teknik “R” menawarkan perasat alternatif, diantaranya:

  • mengikuti dataran fundus dan kornu

  • identifikasi tuba dengan jari dan pengambilan dengan pean

  • identifikasi kornu dan mengambil tuba dengan ujung pean

  • menggunakan kasa gulung untuk mempresentasikan fundus dan tuba

Apapun upaya untuk identifikasi dan mengambil tuba, dengan teknik "R" tidak dianjurkan untuk melepas salah satu tuba yang dapat di identifikasi. Tindakan melepas  tuba setelah pengikatan, disamping tidak perlu juga menghilangkan kesempatan untuk tetap dapat mengontrol posisi uterus. Pada umumnya, pengguna teknik "R" akan selalu berupaya untuk mendapatkan kedua tuba sekaligus, setelah salah satu tuba dapat dicapai/diambil.  Pengambilan kedua tuba sekaligus, disamping mempersingkat waktu operasi, juga mengurangi manipulasi dalam rongga pelvis secara berulang kali.

Keterampilan yang perlu dimatangkan dalam mencapai dan mengambil kedua tuba adalah kepekaan dalam topografi dan identifikasi fundus uteri dan tuba. Keterampilan lain yang juga akan sangat menentukan adalah bagaimana cara memanfaatkan tuba pada satu sisi sebagai alat bantu atau pemandu untuk mencapai tuba pada sisi yang lain.   

Menutup Dinding Perut

Jauh sebelum kontroversi tentang perlu-tidaknya lapisan peritoneum dijahit, teknik "R" telah menyebutkan bahwa lapisan ini tidak perlu dijahit. Kesimpulan ini diperoleh setelah mengamati bahwa setelah retraktor diangkat dan fascia didekatkan, lapisan peritoneum akan saling melekat dan menutup secara spontan. Hasil pengamatan ini dijadikan dasar untuk tidak melakukan penjahitan pada lapisan peritonbeum. Fokus utama penutupan dinding perut adalah pertautan fascia secara kuat. Lapisan subkutis dan kulit ditautkan sekaligus dengan aposisi sebaik mungkin.      

ANESTESI DALAM PROSEDUR TUBEKTOMI

Pada masa awal penggunaan teknik tubektomi, prosedur ini dilakukan dengan anestesi umum. Prosedur tubektomi dilakukan pada kamar operasi sebagaimana pada tindakan operatif umumnya. Diperlukan pula tenaga dan bahan anestesi yang lengkap serta alat pemantau yang memadai. Mengingat adanya serangkaian kejadian gawatdarurat pada klien tubektomi dengan anestesi umum, maka dicoba untuk mengganti anestesi umum dengan anestesi konduksi atau balance anesthesia. Walaupun terjadi pengurangan dari angka kejadian gawatdarurat tetapi belum memberikan makna yang cukup berarti.

Dari hasil penelitian Perkumpulan Obstetri Ginekologi Amerika pada tahun 1977-1981, terdapat 29 kasus kematian pada tubektomi dengan anestesi umum. Dari keseluruhan kasus tersebut, 11 di antaranya disebabkan oleh komplikasi anestesi (akibat kelebihan dosis/stadium anestesi yang terlalu dalam), 7 kasus sepsis, 4 kasus infark miokardium dan 4 kasus oleh sebab lainnya.

Hasil penelitian tubektomi dengan anestesi umum di 28 negara (termasuk Cina, India, Bangladesh, Thailand, dan Srilangka) menunjukkan angka mortalitas sebesar 14,3-53,4 per 100.000 kasus. Hampir separuh dari kasus kematian tersebut disebabkan oleh komplikasi anestesi umum. Di Amerika Serikat, tahun  1979-1981 hanya terdapat 1-2 kasus kematian dari 100.000 kasus. Keluaran ini, merupakan penghitungan multiplikasi akibat adanya kesulitan dalam memperoleh jumlah kasus yang sebenarnya.

Komplikasi yang berkaitan dengan anestesi umum adalah; depresi atau henti nafas, gangguan kardiovaskuler (sinus aritmia, hipotensi, hipertensi dan henti jantung), konvulsi dan aspirasi bahan muntahan

Keterbatasan penggunaan anestesi umum adalah; memerlukan tenaga khusus (spesialis atau penata anestesi), mempunyai risiko cukup tinggi jika dibandingkan dengan risiko yang disebabkan oleh prosedur minilaparotomi (klien dalam keadaan sehat), menambah biaya pelayanan (jasa dan medikamentosa), membutuhkan peralatan (anesthesia apparatus) canggih dan mahal, waktu pulih yang relatif lama, dan ketersediaan peralatan tindakan resusitasi kardiopulmoner merupakan syarat mutlak

Mengacu pada keterbatasan tersebut maka tubektomi dilakukan dengan menggunakan bahan anestesi yang sangat aman atau hanya dengan anestesi lokal. Kombinasi dari anestesi lokal dengan medikamentosa lainnya, harus memperhatikan unsur efektivitas dan tingkat keamanan yang tinggi. Sebagai contoh, walaupun meperidine (Pethidinâ) memberikan efek analgesik yang baik dan harganya relatif murah tetapi penggunaannya (untuk prosedur tubektomi) hanya dibenarkan apabila tersedia antidotum dan fasilitas penanggulangan gawatdarurat yang memadai.        

Muammar, PKMI , sumber :

  1. Amran R., Irawan: Perbandingan efektifitas clan keamanan prosedur tubektomi standar PKMI clan Rebate "R"Technique, Skripsi, Pusdiklitbang PKMI Sumatera Sealatan, 1998

  2. Amran R: Pengalaman penyelenggaraan pendidikan clan pelatihan kontrasepsi mantap di Sumatera Selatan, Lokakarya penye­lenggaraan pendidikan, pelatihan clan pelaya­Dan kontrasepsi mantap, Puncak-Jawa Barat, 1990

  3. Rachimhadhi T, Iman Santoso B, Adriaansz G, Suharto A, PKMI 2003, Tubektomi Minilaparotomi Anestesi Lokal (TMAL)

 

Copyright © 2008 PKMI All rights reserved

Last modified: 04/25/11