|
Pandangan
keliru sampai saat ini dari sebagian besar masyarakat masih
menganggap vasektomi sama dengan kastrasi (kebiri), sehingga
dikhawatirkan dapat mengakibatkan kegemukan dan kehilangan
potensi sebagai laki-laki serta tidak mampu menembak (muncrat). Tindakan vasektomi hanya memutus
kontinuitas vas deferens yang berfungsi menyalurkan spermatozoa
dari testis, sehingga penyaluran spermatozoa melalui saluran
tersebut dihambat.
Sumbatan
pada vas deferen tidak mempengaruhi jaringan interstitiel pada
testis, sehingga sel-sel Leydig tetap menghasilkan hormon
testosteron seperti biasa dan libido juga tidak berubah.
Untuk menjawab
pandangan keliru diatas, berikut akan kami jelaskan tentang
mekanisme ereksi dari sudut pandang medis.
Mekanisme Ereksi (Mechanism of Erection)
Sistem Persarafan Ereksi
Pada dasarnya mekanisme ereksi
terjadi melalui proses neurologis dan hemodinamik yang dikontrol
oleh faktor psikologis. Sehingga penyebab disfungsi ereksi
dibagi menjadi faktor psikologis dan faktor organik yang dapat
disebabkan oleh kelainan pada pembuluh darah (vaskulogenik),
persarafan (neurogenik) dan hormon (endokrinologik) (Carbone,
et al 2004). Rangsangan seksual akan diolah pada susunan
saraf pusat di beberapa tempat terutama di jaras supra spinal
yaitu area preoptik medial (MPOA) dan nukleus paraventrikularis
(PVN) dihipotalamus dan hippokampus yang
merupakan pusat integrasi fungsi
seksual dan ereksi.
Penelitian pada binatang dengan melakukan elektro stimulasi
pada area tersebut akan menimbulkan terjadinya ereksi,
sebaliknya lesi pada daerah itu seperti stroke, ensefalitis,
epilepsi lobus temporal dan Parkinson akan menurunkan frekuensi
kopulasi dan disfungsi ereksi.(Sachs
& Meisel, 1988;
Marson,
et al, 1993).
Berbagai macam neurotransmiter seperti dopamin dan norepinefrin
ditemukan pada hipotalamus diduga aktivasi reseptor kedua
neurotransmiter akan menyebabkan terjadinya ereksi, sedangkan
aktivasi reseptor serotonin ( 5-hydroxytryptamine) akan
menghambat terjadinya ereksi (Foreman & Wernicke, 1990).
Penyuntikan apomorfin dengan dosis 5ng pada PVN pada tikus
jantan akan menyebabkan ereksi tanpa adanya tikus betina(Melis,
et al 1987). Efek pemberian apomorfin akan meningkatkan
produksi Oksida Nitrat (NO) sebagai neurotranmiter penting
terjadinya ereksi terutama pada PVN(Melis, et al 1996).
Sebaliknya lesi pada PVN sangat menurunkan kemampuan ereksi pada
pemberian apomorfin. (Argiolas, et al 1987) Dari
penelitian tersebut diduga kuat bahwa aktivasi reseptor
dopaminergik di PVN berperanan pada terjadinya ereksi yang di
induksi dengan apomorfin. (Allard & Giuliano, 2004)
Rangsangan
dari susunan saraf pusat akan dilanjutkan pada tingkat
medula spinalis yang mempunyai dua pusat persarafan
ereksi, sistem persarafan parasimpatis yang merupakan
pusat rangsangan terjadinya ereksi (erektogenik)
terletak pada segmen sakrum (S2 - S4) pada manusia
nukleus parasimpatis terutama terdapat di saraf
preganglion parasimpatis pada columna intermedio lateral
medula spinalis sakrum S3. Akson parasimpatis akan
melalui nervus pelvikus menuju pleksus pelvis dan
bersinap dengan persarafan post ganglion dimana akson
menujun ke nervus cavernosus.(Nadelhaft, et al
1983; Allard & Giuliano, 2004) Sistem persarafan
simpatis yang terutama menghambat ereksi (erektolitik)
pusatnya terletak pada kolumna intermedio lateral dan
komisura dorsal abu abu pada segmen torakolumbal (T11 –
L2) medula spinalis. (Nadelhaft,
et al 1987, Allard & Giuliano, 2004)
Penis di
persarafi oleh sistem persarafan otonom (simpatis dan
parasimpatis) pada daerah pelvis kedua saraf bersatu
membentuk nervus kavernosus yang masuk ke dalam korpus
kavernosus, korpus spongiosum dan gland penis untuk
pengaturan aliran darah selama ereksi dan detumesen.
Sistem persarafan somatis yaitu nervus pundendus
berperan sebagai sensorik penis dan kontraksi dan
relaksasi otot otot lurik bulbokavernosus dan
isciokavernosus (Lue, 2000).
Sistem persarafan tersebut bertanggung
jawab terhadap terjadinya tiga macan tipe ereksi :
psikogenik, refleksogenik dan nokturna. Ereksi
psikogenik yang terjadi karena rangsangan pendengaran,
penciuman dan fantasi yang diolah pada susunan saraf
pusat akan dilanjutkan pada pusat ereksi di medula
spinalis (T11-L2 dan S2-S4) sehingga terjadi ereksi.
Ereksi refleksogenik yang terjadi karena rangsangan
perabaan pada organ genital dan sekitarnya, akan menuju
pusat ereksi di medula spinalis yang akan menimbulkan
persepsi sensoris yang akan mengaktifkan sistem saraf
otonom untuk menyampaikan rangsangan pada nervus
kavernosus sehingga terjadi ereksi. Tipe ereksi ini akan
tetap terjadi pada pasien dengan cedera medula spinalis
diatas segmen sakrum 2. Ereksi nokturna umumnya terjadi
selama tidur rapid eye movement (REM). Selama tidur REM
akan mengaktifkan sistem saraf kolinergik yang terletak
pada tegmentum pontin lateral, sehingga terjadi
peningkatan ketegangan penis.(Lue, 2002)
Anatomi dan Fisiologi
Ereksi pada Penis
Fisiologi
dan anatomi ereksi telah disimpulkan dari berbagai
penelitan dengan baik oleh Krane dkk 1989. Penis
mempunyai sepasang korpus kavernosus dan sebuah korpus
spongiosum. Korpus spongiosum, merupakan jaringan yang
mengelilingi uretra dan pada bagian distal membentuk
bagian kepala (gland) penis. Sedangkan korpus kavernosus
berbentuk sepasang tabung yang mengecil dibagian ujung
proksimalnya. Tunika albugenia, pembungkus tabung ini
melekat pada jaringan kavernos yang berongga-rongga
(spongelike) sehingga terbentuklah ruang-ruang
(lakuna) yang saling berhubugan dan dibatasi oleh
sel-sel endotel pembuluh darah. Dinding trabekulum ini
terdiri dari seberkas otot polos yang tebal dalam
bingkai serat fibroelastik yang mengandung sel-sel
fibrolast, jaringan kolagen dan elastin.(Taher, 1993)
Sumber pendarahan adalah
arteri dorsalis penis dan arteri kavernosus kanan dan kiri yang lebih
berperanan pada prorses ereksi merupakan cabang akhir dari jalinan
arteri hipogastrik kavernosus.
Arteri kavernosus bercabang membentuk arteri helisine, cabang dari
setiap arteri helisine langsung berakhir di ruangan lakuna tersebut.
Sedangkan aliran pembuluh balik dari korpus kavernosus keluar melalui
venula subtunika yang terletak diantara bagian perifer jaringan penegang
(erectile) dengan tunika albugenia. Aliran vena dari ujung penis
mengalir terutama melalui vena dorsalis profunda, sedangkan aliran
bagian pangkal krura biasanya melalui vena kavernosus dan vena kruralis
(Lue, 1988).
Ereksi akan terjadi diawali relaksasi otot polos korpus
kavernosus penis (Taher, 1993). Dilatasi dinding
kavernosa dan arteri helisine menyebabkan darah mengalir
memasuki ruangan-ruangan lakuna. Selanjutnya, relaksasi
otot polos trabekulum akan memperluas ruangan lakuna
sehingga penis menjadi membesar.
Tekanan darah sistemik yang disalurkan melewati arteri
helisine akan lebih mendorong dinding trabekulum ke arah
tunika albugenia. Sebaliknya mekanan pleksus venula
subtunika sehingga menghambat pengembalian darah dari
ruangan lakuna dan meningkatkan tekanan dalam lakuna
sehingga penis menjadi tegang (Taher, 1993). Adanya
tekanan dalam lakuna selama periode ereksi dihasilkan
oleh keseimbangan antara tekanan perfusi arteri
kavernosa dengan tahanan terhadap pengeluaran aliran
darah oleh kompresi venula subtunika. Pengurangan aliran
darah balik subtunika oleh penekanan mekanik ini,
dikenal sebgai mekanisme oklusi vena korporal. |