Indonesian Association for Secure Contraception                            

          Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI)

                                                                                                     

            Home        Article      Training Programs      Newsroom        Photo Galery     Download

Article and Journal

 

 

 

 

Anestesi Lokal Pada Tubektomi

Oleh : Saribin Hasibuan

 

PKMI Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta

Bagian Obstetri Ginekologi FK-UGM Yogyakarta

 

PENDAHULUAN

         

    Masalah kependudukan di Indonesia berkaitan dengan berbagai faktor. Salah satu faktornya adalah jumlah yang besar. Dari jumlah ini didapat pula jumlah pasangan usia subur (PUS) yang besar. Kira-kira 80 % berada di pedesaan, dan 70 % dari PUS ini tidak menginginkan anak lagi (Suyudi, 1991).

    Berbagai upaya dan bermacam-macam metode kontrasepsi yang tepat telah dilakukan oleh pemerintah/Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Metode kontrasepsi  yang berbagai jenis ini sifatnya adalah terbatas untuk mengatur jarak kehamilan/kelahiran.

    Tubektomi Pomeroy adalah salah satu metode  kontrasepsi yang tepat untuk mengatasi masalah PUS  yang tidak ingin menambah anak. Sayang metode ini sampai sekarang hanya terdapat di Rumah Sakit. Untuk mendekatkan tubektomi pomeroy di masyarakat, dilakukan satu penelitian tubektomi dengan anestesi lokal.

       Data dianalisis dengan menggunakan komputer dengan paket program Epistat versi II dan Epi Info Versi II.

 

BAHAN DAN CARA

    Studi  komparasi tubektomi secara pomeroy  dengan anestesi lokal dibandingkan dengan anestesi umum.

    Pasien terdiri dari 42 orang dengan anestesi lokal dan 65 orang dengan anestesi umum, sedangkan 57 orang diberikan anestesi lokal dengan tambahan injeksi  ketamine intra vena.

    Premedikasi yang digunakan adalah semua sama pada tiga kelompok tersebut yaitu sulfas atrofin 0,25-0,50 mg. Intra vena dan diazepam 10 mg. Intra vena. Pada kelompok dengan anestesi lokal dilakukan ilfiltrasi dengan lidokain 1 % kurang lebih 10 ml. Lapis demi lapis hingga peritonium dan mesosalfing pada waktu akan memotong tuba. Pada kelompok kedua selain dilakukan infiltrasi dengan lidokain, pada waktu akan membuka peritonium diberikan ketamine injeksi 20 mg intra vena. Pada kelompok ketiga diberikan ketamine 1 – 2 mg per kg berat badan. Prosedur Operasi sesuai  dengan Panduan Pelayanan Tubektomi dari PKMI.

   

    Variabel tergantung adalah lama tindakan  dan efek samping anestesi, variabel bebas adalah jenis anestesi, sedang variabel lain adalah umur, paritas, tingkat pendidikan dan wilayah asal akseptor. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan uji statistik X2 dan uji t.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Tabel 1. Jenis Anestesi Berdasarkan Umur.

Jenis

Umur

X 2

P

≤30 Th

>30 Th

Cara A

22

20

0,02

>0,05

Cara C

35

30

Ref

-

Cara B

34

23

0,42

>0,05

 

 Dengan uji t didapatkan sebagai berikut :

 

Jenis

Mean

SD

n

NILAI P

Cara A

30,6 th

0,72

42

 

Cara C

30,6 th

0,45

65

>0,05

 

          Dari 164 akseptor, didapat umur termuda 24 tahun sebanyak 1 akseptor, umur tertua 43 tahun sebanyak 1 akseptor. Tidak didapat perbedaan bermakna secara statistik antar kelompok umur (p>0,05)

 

Tabel II. Jenis Anestesi Berdasarkan Paritas.

Jenis

Paritas

X 2

P

2

>2

Cara A

3

39

0,01

>0,05

Cara C

5

60

Negatif

-

Cara B

1

56

2,29

>0,05

 

          Pada tabel ini didapat 9 akseptor  dengan paritas 2, dan 155 akseptor dengan paritas >2. didapat paritas terbanyak ialah 6 pada 2 akseptor. Tidak didapat perbedan yang bermakna secara statistik  pada kelompok paritas.

 

Tabel III.  Jenis Anestesi Berdasarkan Pendidikan

Jenis

Pendidikan

X 2

P

SD

SLP Ke atas

Cara A

30

12

3,51

>0,05

Cara C

56

9

Ref

-

Cara B

52

5

0,77

>0,05

         

          Didapat 138 akseptor dengan pendidikan tamat SD, dan 26 akseptor pendidikan SLTP. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi kurang (miskin) dan geografik. Tidak didapat perbedaan bermakna secara statistik pada kelompok pendidikan.

 

Tabel IV. Jenis Anestesi berdasarkan wilayah Asal

Jenis

Wilayah Asal

X 2

P

DIY

Luar DIY

Cara A

1

41

6,18

<0,05

Cara C

12

53

Ref

-

Cara B

0

57

11,67

>0,05

         

          Pada Tabel ini didapat 13 Akseptor asal DIY dan 151 akseptor berasal dari pedesaan diluar DIY.  Didapat perbedaan bermakna secara Statistik ( p<0,05). Hal ini merupakan suatu bukti bahwa pelaksaan tubektomi perlu diusahakan  di luar rumah sakit agar masyarakat yang memerlukan lebih mudah memperolehnya. Hal ini pula merupakn dorongan bagi PKMI  untuk lebih meningkatkan pelatihan kontap medik (tubektomi) dalam kwantitas dan kwalitas.

 

 Tabel V. Jenis Anestesi Berdasarkan Lama Tindakan.

 

Jenis

Lama Tindakan

X 2

P

≤ 15 menit

> 15 menit

Cara A

16

26

0,01

>0,05

Cara C

24

41

Ref

-

Cara B

25

32

0,61

>0,05

         

           Jika dihitung dengan uji t, untuk membandingkan cara A dan cara C hasilnya sebagai berikut :

 

Jenis

Mean

SD

n

NILAI P

Cara A

19,4

1,36

42

 

Cara C

20,2

1,13

65

P>0,05

 

          Lama tindakan (tubektomi pomeroy) terpendek 14 menit, dan paling lama 32 menit, dan tidak didapat perbedaan bermakna  secara statistik dari kelompok waktu (p>0,05).

 

Tabel VI. Jenis Anestesi Berdasarkan Komplikasi.

 

Jenis

Komplikasi

Ada

Tidak ada

Cara A

0

42

Cara C

0

65

Cara B

0

57

         

          Pasca operasi tidak didapatkan komplikasi yang bermakna secara klinik. Yang didapat ialah mengigau pada anestesi umum (ketalar) serta rasa nyeri ringan pada ketiga cara anestesi tersebut.

 

Tabel VII. Jenis Anestesi berdasarkan Efek Samping Anestesi

 

Jenis

Efek Samping

X 2

P

Ada

Tidak ada

Cara A

1

42

4,09

<0,05

Cara C

9

56

Ref

-

Cara B

6

51

0,31

>0,05

 

Keterangan : Efek samping anestesi berupa mual, muntah, pusing, sakit kepala, batuk, sesak nafas.

 

          Didapat efek samping ringan pada  16 akseptor dan pada 149 akseptor tidak diketemukan. Didapat perbedaan yang bermakna  antara cara A dibanding C.

 

KESIMPULAN

          Dari hasil penelitian ini dapat diutarakan beberapa kesimpulan, sebagai berikut :

  1. Tidak didapat perbedaan bermakna secara statistik antara tubektomi pomeroy dengan cara anestesi lokal (lidokain 2 %) dan cara  anestesi umu  (ketalar).

  2. MAL (mini Laparatomi anestesi Lokal) dapat dikerjakan di luar rumah sakit (tempat pelayanan KB tanpa Peralatan canggih).

  3. Tubektomi adalah salah satu metode kontrasepsi yang aman dan efektif.

 

 

SARAN

          Mengingat PUS dengan cukup anak sebagian besar berada di pedesaan, diharapkan Pemerintah (Departemen Kesehatan RI) dapat kiranya memberikan ijin khusus kepada tempat pelayanan tertentu untuk memberikan pelayanan tubektomi (MOW) di  luar rumah sakit.

 

KEPUSTAKAAN

·         Dipalma, JR; Digregorio SJ., 1990, Basic Pharmacology in medicine, third Edd. Philadelphia p: 52-231.

·         Gan, S, 1987, Farmakologi dan terapi, Edisi III, FK UI Jakarta 123-221.

·         Muhardi, M, Rusli, T, Sunatrio, S, Dahlan, R. 1989 Anestesiologi. FK UI, Jakarta.

·         Panduan Pelayanan Tubektomi. 1992, PKMI, Jakarta.

·         Suyudi, 1993, Penduduk Sebagai Pelaku dan Sasaran Pembangunan; Komperensi Kependudukan Indonesia: Jakarta, 1993, hlm 2.

 

Copyright © 2008 PKMI All rights reserved

Last modified: 08/12/10